Terlalu banyak orang-orang tolol didalam hidup gue. Berbicara orang tolol (termasuk gue), jenis Homo Sapiens yang evolusinya paling sempurna ini banyak ditemukan saat jaman-jaman SMA gue. yang paling gila tahun 2008, saat gue kelas 2.
Saking tololnya kami, gue bahkan lupa apa kami pernah belajar dikelas. Yang gue inget hanya main-main saja. Kata orang-orang, yang paling lo inget itu cuma yang bahagia aja. Faktanya, itu masa terbahagia gue.
Mungkin kami memang tolol, tapi karena itu, kami bahagia. Kami belum tahu sulitnya dunia. Kami sedikit anti-kedewasaan. Bukan karena kami takut untuk jadi dewasa, tapi karena kami cinta kebebasan. Tak selamanya menjadi dewasa indah, dan tak selamanya orang dewasa mapan.

orang-orang tolol circa 2008
dalam gambar diatas, terdapat sebagian dari orang-orang tolol jaman kelas 2 gue. Lucu juga karena kita tidak pernah berpikir kami akan jadi apa pada masa itu.
dua orang dibawah, si Pewe, sebentar lagi akan jadi ahli elektro ataupun seorang announcer di salah satu radio. sebelahnya jangan ditanya. Dua mantan anggota Changcutters diatas, Ekel, sebentar lagi akan jadi ahli infrastruktur laut. Febri, disebelahnya, mungkin pedagang emas. Anton, gondrong yang paling kanan, mungkin akan menjadi ahli peternakan Indonesia. Gondrong paling kiri, Kevin, mungkin sudah beratus-ratus kali menaiki tebing. Sedangkan yang paling atas, Norris, menjadi pacarnya Febri.
Kami tidak pernah berpikir tentang pikiran orang terhadap kami pada masa itu. Kenapa? Karena those who mind don’t matter, and those who matter don’t mind. Kami selalu menikmati setiap detik hidup kami.

orang tolol circa 2009
Orang-orang tolol ini, yang kerjaannya hanya tertawa menertawakan sesuatu yang mungkin absurd, ternyata juga menyukai mengunjungi guru mereka. Seingat saya kami pernah mengunjungi rumah pak Tri jaman itu cuma untuk menjenguk dia sakit, atau ngobrol-ngobrol setelah lulus. Disini ada beberapa tambahan orang tolol.
Albert, yang paling kiri, mungkin sudah jadi dokter muda. Panji disebelahnya, belakangan gagal ke Taiwan untuk mengikuti lomba desain pesawat. Marcel, keempat dari kiri, mungkin sudah bisa bahasa hewan. dan Gad, kedua dari kanan, mungkin beberapa bulan kedepan sudah mengarungi angkasa.

orang-orang tolol jaman sekarang
Setelah lulus, banyak jalan yang harus kami lewati. Sebagian sulit, sebaian lainnya mudah. Kami banyak berubah, tapi secara mental kami masih saja sama. Sekian ratus kosa kata yang gue tulis disini tidak akan bisa menggambarkan apa yang kami alami sebagai orang-orang tolol.
Dalam gambar diatas, ada Abim, paling pojok kiri, orang tertolol yang pernah saya temui. Mungkin sebentar lagi dia akan jadi legenda di himpunan mahasiswanya. Yang memakai pakaian wanita ditengah, Deta, ah, itu hanya pakaiannya saja wanita. Dia, maaf, beliau mungkin sekarang sudah jadi kepala Satpol-PP.
Mungkin kami tolol, tapi kami disini bukan untuk mencari ijazah. Kami belajar hidup. Kami belajar bahagia. Kami belajar kebebasan. Selanjutnya kami akan belajar bagaimana mempertahankan kebahagiaan dan kebebasan itu dengan cara kami, cara Gonzagawan-Gonzagawati. Man and woman for others.
Sudah 4 tahun kami lalui setelah kami lulus sekolah. Sekarang kami mulai menapaki jalan kami menuju masa depan. Tak jarang kami melihat ke belakang, ke masa itu, hanya untuk melihat seberapa jauh kami berjalan. Dan jika kami ingin pulang, kami tahu kemana jalan pulang.
untuk teman-teman, kapan pulang?
AMDG
smlhtbrt




